Orangtua dan Anak

Hindari Kekerasan Verbal pada Anak

Anak ibarat kanvas lukisan yang polos, yang siap disapu dengan warna dengan beraneka ragam. Maka, dari sebab itu, cara mendidik dan membesarkan anak dalam sebuah keluarga sangat penting. Membesarkan anak memang membutuhkan kesabaran dan kasih sayang, dengan strategi yang tepat, agar segala penyampaian perhatian dan pembelajaran sampai dengan tepat dan dimengerti oleh si buah hati.

Sayangnya, kadang terjadi di dalam keluarga,  kondisi yang ideal ini tidak terjadi, justru kekerasan verbal yang kerap terlihat. Contoh yang paling mudah, panggilan seperti "Si hitam", "si ndut", atau "anak malas", disadari atau tidak, dapat menimbulkan efek negatif pada anak. Proses labeling tersebut bisa berdasarkan karakter fisik, pribadi, maupun kebiasaannya. Padahal, maksud orangtua memberi sebutan tersebut kadang hanya sebagai "panggilan kesayangan" atau memicu anak menjadi lebih rajin.

Mengapa bisa demikian? Pasalnya, tidak semua anak dapat menerimanya dengan baik, terutama bila memiliki sensitivitas tinggi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, tidak jarang membuat anak stres, depresi, dan minder, yang berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. Hal ini pun bisa terus membekas pada benak anak hingga beranjak dewasa. Dan ibarat sebuah lingkaran, mereka akan meneruskan "kebiasaan" tersebut ke lingkungan sekitar dan keturunan berikutnya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Kesadaran dan sikap empati orangtua terhadap perasaan dan perkembangan jiwa anak merupakan kunci utama menghindari hal tersebut. Mencoba memahami dunia anak dapat membantunya mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Tak bisa dimungkiri, sebutan dan panggilan tersebut kadang sulit untuk dikendalikan, dan tidak menutup kemungkinan pula ada anak yang tidak terpengaruh. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat dari perubahan mimik anak saat mendengar nama sebutannya dipanggil. Apabila raut wajahnya menunjukkan kekesalan, hal ini merupakan alarm bagi Anda dan orang dewasa lain di rumah yang juga sering melakukannya, untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut.

Bisa juga dengan melihat ada tidaknya perubahan sikap pada anak. Misalnya, meski dipanggil anak malas, tidak ada perubahan pada sikapnya alias tetap malas. Bukan berarti dengan demikian Anda bisa terus memanggil sebutan-sebutan lain untuknya. Hal ini menandakan bahwa tidak ada gunanya menggunakan kata sebutan yang bersifat negatif, karena toh tidak ada hasilnya. Penyebutan tersebut hanya memberi satu dampak, yaitu perasaan tidak aman. [AJG]

Sumber : Kompas / Klasika / Minggu, 30 Agustus 2009

 

AttachmentSize
Hindari Kekerasan Verbal pada Anak.pdf33.5 KB

Home Pre-Page